Sunday, July 25, 2010

Nola, layu dan tercampakkan

Nola, kembang desaku nan cantik jelita, si penakluk pria
Nola bukan nama sebenarnya adalah gadis muda belia yg cantik rupawan menjadi kembang desa yg dikagumi di kampung halaman saya. Wajahnya bulat telur dengan bulu mata yg lentik, hidungnya bangir, kulitnya pun kuning langsat,sungguh sangat menawan hati setiap pria yg melihatnya. Meskipun tinggi badannya tak lebih dari 160cm tapi itu tak mengurangi daya pikatnya. Berlomba-lomba lelaki di kampung saya menarik perhatian Nola. Tampaknya Nola pun sadar betul kalau kecantikannya dapat membuat pria mana pun bertekuk lutut padanya. 

SMA Negeri 1 tempat kami bersekolah pun geger karena kehadirannya. Setiap pagi ada saja pria yg dengan sukarela menitipkan berbagai makanan ringan di laci meja belajar sekolah. Saya pun ketiban tugas sebagai kurir mengantarkan berbagai titipin tersebut, mulai dari surat cinta picisan, novel roman picisan Marga T,coklat,roti bolu,hiasan rambut yg lucu2,dll.

Ada untungnya juga buat saya sebagai  kurir surat cinta di sekolah, karena saya tak perlu mengeluarkan uang untuk jajan di kantin sekolah. Lagian saya nga mungkin bisa jajan di sekolah dengan mengeluarkan uang dari kocek saya sendiri, ibu saya tak pernah memberikan uang jajan buat saya. Maka profesi sebagai kurir surat cinta ini menjadi pekerjaan yg menyenangkan buat saya. Setiap kali ada lelaki yg mengajak kencan Nola, maka saya akan bertugas sebagai dayang2 yg mendampingi sang ‘Kembang Desa’. Zaman saya sekolah dulu, jangan harap Anda bisa pacaran dengan bebas seperti sekarang ini. Gila anak SMA sudah pacaran, bisa disembelih jadi sate padang ama orang tua kami.Tidak…tidak bisa, pacaran itu tabu buat orang tua kami. Anak SMA itu hanya diwajibkan belajar dan belajar.

Tapi walaupun dilarang habis-habisan, tidak berarti anak SMA di zaman saya tidak pacaran.Justru kami punya segudang akal untuk mengelabui orang tua kami. Kegiatan ekstrakurikuler adalah kunci keselamatan kami. Kalau ada jadwal kencan,maka Nola tinggal memanggil saya untuk datang ke rumahnya dan memintakan izin ke ayah ibunya bahwa kami sore ini ada kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Pergi dari rumahnya kami jalan bareng, di tengah jalan teman kencannya sudah menunggu,mereka pergi berduaan memadu kasih entah ke mana sementara saya tetap berangkat menuju sekolah karena saya memang  mengikuti kegiatan ekstrakurikuler belajar musik, menyanyi dan menulis not balok. Setelah pelajaran musik selesai, Nola dan kekasihnya sudah ada di kantin menunggu saya, sebelum kami pulang ke rumah,saya pasti ditawarin makan mie goreng atau mie pangsit sama kekasihnya sebagai upah untuk menjadi kurir cinta mereka. Tentu saja saya tak pernah menolak upah tersebut, sembari saya menikmati makanan saya yg lezat karena gratis, mereka pun merasa senang karena masih punya waktu berduaan, ini namanya “simbiosis mutualisme”…hehehe..bener nga?

Kalau orangtua Nola selalu khawatir berlebihan terhadap keadaan putrinya, justru berbanding terbalik dengan keadaan saya, orangtua saya tak pernah khawatir dengan saya. Mereka tak pernah pusing memikirkan keadaan saya, bagaimana tidak, tubuh saya yg kurus,kulit sawo matang,tinggi badan semampai ( semester tak sampai hahaha ) dan wajah saya relative biasa2 saja, tak ada yg istimewa yg patut dipamerkan. Tentu orang tua saya pun tak yakin ada pria yg nekat memacari putrinya hahaha. Maka saya pun tak pernah dicurigai sudah punya pacar. Saya nga tahu apakah saya harus mensyukuri keadaan ini atau justru menangisinya? Yang jelas hidup saya jauh lebih aman dibandingkan Nola, saya tidak pernah mengalami ‘overprotective’ dari orang tua saya.hahaha…

Kalau Nola terkenal karena kecantikan dan kemolekan tubuhnya, maka saya terkenal di SMA saya karena saya salah satu wanita yg berotak-encer dan selalu menjadi rangking kelas, kalau nga rangking satu yah rangking dua. PR sekolah Nola pun lebih banyak saya yg mengerjakannya.Kesibukannya gonta ganti pacar membuat saya yg harus pontang panting menyelesaikan PR sekolahnya. Kalau nilai rapornya jelek bisa gawat darurat boo..orangtuanya bisa curiga berat pada kami, bagaimana tidak seminggu 3X mengikuti ekstrakurikuler, belum lagi acara belajar bersama, kalau nilainya anjlok alias lebih banyak yg warna merah, apa kata dunia? Ancur minah. Maka saya pun berkewajiban memastikan nilai rapor Nola  bisa menjadi hitam semuanya,meskipun cuma berputar di angka 6 atau mentok-mentok  6.5

Semasa SMA saya begitu naïf, saya tak pernah berpikir orang pacaran itu akan berbuat yg terlalu jauh. Cukup pegangan tangan dan curi-curi pandang sudah membuat dunia menjadi jungkirbalik menurut saya. Malah lebih bego lagi, saya pikir kalau orang pacaran sampai ciuman bibir, maka bisa mengakibatkan kehamilan hahaha… Saya begitu naïve. Kurikulum pendidikan masih sangat jadul dan terbelakang di kampung saya semasa SMA, sehingga buku-buku tentang edukasi seks sama sekali tak ada, nyaris diharamkan dan tabu bagi kami kaum wanita.

Ketika naik kelas 3 SMA, saya bingung sudah seminggu Nola tidak masuk sekolah dan saya pun tak mendapat kabar darinya, maklumlah zaman itu belum ada benda canggih bernama handphone,sehingga Nola tak bisa kirim SMS. Beberapa kali saya singgahi rumahnya tapi selalu kosong tak berpenghuni. Ke mana Nola? Saya kasak kusuk tanya teman-teman saya, siapa tahu mereka punya info tentang Nola. Tapi nihil.Semua bungkam seribu bahasa. Setelah 2 minggu berlalu, baru saya tahu kalau ternyata Nola telah menikah dengan seorang anak pengusaha kebon kelapa sawit dan kebon karet yg sukses dan kaya raya di kampung saya.Mereka ternyata sudah MBA : Married by Accident…Dan Nola pun tak pernah menamatkan SMA, suaminya langsung memboyong Nola ke kampungnya, meskipun tak terlalu jauh dari kampung saya, hanya ditempuh selama 2 jam dengan mobil pribadi. Setelah kejadian itu tamatlah riwayat saya sebagai kurir cinta.Dan saya pun tak pernah lagi bersua dengan Nola, si kembang desa nan cantik jelita, sahabat karib saya semasa SMA.

Meskipun MBA, tapi saya selalu berpikir bahwa Nola adalah gadis yg sangat beruntung dan sangat diberkahi oleh Tuhan YME. Bayangkan apalagi yg kurang, suaminya tampan dan kaya raya,punya harta segudang, mobil mewah berjejer anggun di halaman rumahnya yg luas bak istana, tak ada yg kurang di mata saya.Semuanya sangat sempurna. Sempat terbersit rasa iri di hati saya, coba kalau Tuhan berbaik hati memberikan saya wajah cantik dan jelita seperti Nola sabahatku, tentu saya pun akan bernasib sama seperti Nola, MBA dengan pria tampan dan kaya raya. Tapi itu tak terjadi, itu hanya mimpi kosong yg sekelebat pernah singgah di pikiran saya…hehehe.

Bertahun-tahun telah berlalu, saya  tak pernah bersua lagi dengan Nola, tak pernah bertukar kabar. Setelah lulus SMA, saya pun melanjutkan kuliah di Medan. Setelah lulus kuliah saya pun mengadu nasib ke Jakarta. Dan sampai saat ini pun sudah menjadi penduduk tetap di Pulau Jawa. Setiap kali pulang kampung pun, saya tak pernah punya waktu untuk kongkow2 dengan sahabat masa kecil saya atau teman semasa SMA saya. Liburan saya yg serba singkat selalu saya habiskan buat keluarga saya saja.

Desember 2008 yg lalu saya pulang kampung, tanpa sengaja saya bertemu dengan Nola sahabat semasa SMA saya, ketika saya sedang berbelanja di pajak ( pajak sebutan untuk pasar pagi di kampung saya), sedang sarapan pagi mie pangsit di sebuah warung kopi. Sedang asyik2nya makan, tiba-tiba ada yg menepuk pundak saya, dan bertanya dengan suara kaget, Ini Nuchan yah? Saya pun bingung, iyah benar saya Nuchan. Tapi maaf, mbak siapa yah? Maaf saya bener-bener lupa. Tapi dengan mata yg masih berbinar-binar dia tanya lagi, bener khan, kamu Nuchan? Anak SMA Negeri 1 dulu? Iyah saya Nuchan,mantan anak SMA Negeri 1, saya masih bingung dan panik karena tak mengenali wajah Nola, Nola sahabatku nan cantik jelita,berkulit kuning langsat,berwajah bulat telur dengan bulu mata yg lentik, si kembang desa nan rupawan,si penakluk para lelaki di kampungku dulu…Kini…masa kini saya nyaris tak mengenali Nola lagi. Mana Nola saya yg dulu? Kini tubuhnya gembrot, rambut awut-awutan, wajahnya yg menua tergilas waktu dan zaman…Tak tersisa sedikit pun kecantikan dan kemolekan tubuhnya.Saya melongo tak percaya dengan mata kepala saya sendiri. Setelah saya bisa menguasai rasa kaget saya, saya pun tersenyum berpelukan dengan Nola. 

Nola bilang, Nuchan, kamu banyak berubah yah.Sekarang badanmu lebih berisi Nuchan. Hehehe, padi kaleee pakai berisi segala…Saya tersenyum mengangukkan kepala tanda setuju. Iyah berat badan saya sekarang 48-50 kg. Dulu waktu SMA hanya berkisar 39kg saja, paling banter juga naik sampai 40kg doang. Saya pikir wajar sajalah, karena kurang gizi...keluarga saya tak pernah bisa makan makanan bergizi, semuanya serba terbatas.hahaha...Didera kemiskinan.

Singkat cerita kami berjanji mau saling bertemu lagi besoknya. Nola rindu mendengar kisah lucu-lucu dari saya. Karena saya pun terkenal sangat humoris semasa SMA. Besoknya kami bertemu lagi di warung pangsit di tengah alun-alun kampung halaman saya. Dari mulut Nola saya dengar dia sudah bercerai dengan suaminya. Saat ini dia tinggal menumpang di rumah ayah-ibunya. Seluruh harta suaminya telah habis tergadai karena ternyata suaminya doyan judi dan main perempuan. Bertahun2 lamanya dia menahan rasa sakit hati dan perlakuan buruk suaminya yg doyan main perempuan, ditambah lagi suka minum dan main judi. Kalau kalah judi, katanya suaminya tak segan2 menampar dan memukuli Nola. Nola sudah lama tersiksa dan menderita, tapi Nola tak pernah berani memberitahukan kepada ayah-ibunya. Kalau pun bercerai, itu bukan pilihan yg tepat buat Nola, selain anak2nya masih kecil,Nola pun tak siap secara materi untuk menanggung biaya hidup anak-anaknya. Belum lagi rasa malu yg tak tertanggung bagi ayah-ibunya. Apa kata dunia? Nola si kembang desa nan cantik jelita dicampakkan suaminya...Itu tak mungkin terjadi. Nola lebih memilih tersiksa dan menderita demi anak dan orang tuanya.

Bukan cuma perselingkuhan dan siksaan fisik yg diterima Nola, penyakit kotor siphilis gonorhoe(penyakit kelamin) pun pernah ditularkan suaminya... Penyakit ini membuat Nola kehilangan keinginan untuk berhubungan badan dengan suaminya.Hidup bagi Nola seperti neraka jahanam...Entah berapa banyak airmata yg tumpah-ruah di dalam sujudnya...Sampai kering sudah airmatanya...Nola tak bisa menangis lagi. Dia hanya pasrah pada nasibnya dan tak mampu berbuat apa-apa lagi, seperti ayam pesakitan yg menunggu untuk disembelih. Tak ada gairah hidup lagi.

Rumah mereka satu-satunya pun harus disita oleh bank karena suaminya sudah menggadaikan rumah tersebut ke bank untuk berjudi. Ternyata kalah total. Nola dan anak-anaknya harus segera angkat kaki dari rumah yg sudah didiaminya bertahun2 lamanya. Nola pun kembali ke pangkuan ayah-ibunya. Setahun lamanya Nola tak pernah punya nyali keluar rumah dan tak pernah mau bertegur sapa dengan tetangganya. Rasa malu dan sakit hati,kecewa, marah, tercampakkan, campur-aduk di dadanya. Rasa bangga yg dulu, sudah tak bersisa. Gonjang-ganjing para tetangga pun menambah kisruh suasana yg ada. Ada yg menyumpahi keluarganya, karena semasa jaya dulu katanya sombong dan belagu. Ada juga yg kasihan dan tak habis pikir bagaimana nasib manusia bisa berubah dalam sekejab mata saja.Macam-macam reaksi orang di kampung saya. Saya pikir betapa beratnya beban mereka yg dulu kaya raya sekarang jadi bangkrut dan jatuh miskin.Roda nasib bener-bener berputar begitu cepat. Nola kembang desaku kini telah layu tergilas roda nasib,kehilangan pesona...pucat dan tak menarik lagi. Ditinggalkan dan terlupakan...menyedihkan...

Kini Nola hanyalah perempuan biasa2 saja, banting tulang berdagang di pasar untuk menafkahi anak-anaknya. Tak ada lagi pria-pria yg antri memberikan hadiah-hadiah seperti semasa SMA dulu. Tak ada lagi pria yg rela menghamburkan uangnya untuk merebut hati Nola-ku si kembang desa yg telah layu.

Moral dari cerita ini :

Kisah ini membuat saya sadar seutuhnya, hidup ini memang penuh misteri. Kini saya mengerti bahwa dalam hidup ini tiada yg abadi. Kecantikan akan pudar tergerus oleh zaman.Kekayaan akan hilang dalam sekejab bak tertiup angin, hilang tak berbekas.

Menurut pendapat saya pribadi, perempuan harus mandiri secara finansial, tidak bergantung penuh kepada suaminya. Saya tidak bilang perempuan harus bekerja di kantoran dengan jam kerja nine to five. Terserah gimana caranya, yg penting perempuan harus mandiri secara finansial. Apakah buka salon di rumah, atau buka toko kecil2an di rumah, kerja freelance tidak terikat waktu, mengajar kursus,menjahit atau apa sajalah yg mampu menghasilkan uang untuk tabungan pribadi. Sewaktu2 suami kabur dengan WIL atau meninggal dunia atau cacat tubuh karena kecelakaan sehingga Anda sebagai istri harus menggantikan posisi suami cari nafkah...Bisa tegak berdiri tak kehilangan arah hidup,karena anak Anda membutuhkan ibunya.Ini hanya pendapat pribadi tidak berlaku mutlak buat siapa saja...:D

Catatan :
artikel ini adalah artikel paling cepat yg pernah saya buat sampai saat ini, cuma dibuat dan diketik selama 1 jam tanpa double check dan revisi.

nuchan@14-05-2009, 23:00PM-24:00PM

1 comment:

  1. Aku menyukai ceritanya. Membuatku tertawa dan tersentuh di hari yang kosong ini. ^_^

    ReplyDelete