Wednesday, June 8, 2011

Tandatangan tak sama membawa sial

Selama ini saya tak pernah pusing dengan yg namanya tandatangan. Beberapa hari yg lalu saya mumet bin rumit bin jengkel, gara-gara tandatangan. Saya bukan artis, bukan selebritis, bukan pula pejabat berwenang, bukan pula seseorang yg duduk di kursi basah yg orang-orang membutuhkan tandatangan saya. Saya cuma orang umum, tidak ada spesialnya. Lalu kenapa tandatangan ini jadi begitu penting?

Ceritanya dimulai sejak saya berencana  untuk traveling ke negara-negara yg hanya mengizinkan orang Indonesia yg punya paspor ijo masuk ke negaranya harus pakai visa. Nah lo terus apa hubungannya dengan kesialan? Beberapa kedutaan negara tertentu itu suka aneh-aneh kalau mau mengurus visa. Ada syarat yg menjengkelkan yaitu harus melampirkan bukti keuangan atau fotokopi rekening koran saya selama 3 bulan terakhir. Kalau dipikir-pikir dengan jernih, apa urusannya dia mau tahu urusan keuangan saya? Tapi ya memang begitu. Mungkin mau cek kemampuan finansial saya, sanggup tidak hidup di negara mereka atau supaya ketahuan, you kere or not? Walaupun saya dongkol tetap saja aturannya tak berubah. Saya yg harus berdamai dengan aturan itu. Secara itu negara mereka ya. Ayak-ayak wae.

Kedutaan yg memberlakukan syarat ini yg saya tahu persis yaitu Korea Selatan, Jepang dan Australia. Bikin syarat mengurus visa itu rada panjang dan lama.  Sebenarnya ada yg lebih rumit bin mumet katanya, yaitu Amerika. Tapi berhubung saya tak pernah punya minat dan mimpi buat ke sana, saya tak pernah peduli mereka mau bikin syarat apa saja. Nga penting buat saya. Kalau yg rada cincai dan tak terlalu ribet adalah China. Semuanya serba praktis. Hehehe. Tapi ada tapinya lo, pas lagi di BCIA ( Beijing Capital International Airport ) belum tentu semuanya praktis. Hahaha...Wajah petugasnya datar dan dingin banget, alamak no smile.Apalagi tampang saya, Asia banget..hehehe..Cukup mencurigakan buat mereka. Gila, negara udah maju begitu, masih rada parno juga yah...( soalnya saya pernah punya drama horor  di Shenzhen Bao’an International Airport, jadi kesan pertama saya sama petugas imigrasi di airport China itu superkaku dan dingin. Es kali pakai dingin segala. Hehehe) Tapi so far sih oke ajalah. Jangan jadi parno ya. Itu saya aja yg lagi apes pes.

Okay back to the topic. Tandatangan tak sama  membawa sial. Sejak saya mulai kerja, kantor saya mengharuskan setiap staff untuk punya tabungan di salah satu bank. Dari sekian bank yg ada, saya pilih BCA. Kenapa BCA, karena lebih praktis dan ATM BCA ada di mana-mana.  Jadilah saya terdaftar jadi nasabah BCA. Yg paling saya sukai dengan BCA adalah penggunaan internet bangkingnya sangat praktis. Saya bisa melakukan pembayaran apa saja via internet bangking. Setiap nasabah yg terbiasa pakai internet bangking dengan Key BCA ini maka akan setuju dengan saya bahwa internet bangking BCA memang te o pe be ge te alias top bgt. Tapi gelar ”te o pe be ge te”  ini tiba-tiba lenyap dari benak saya, hanya karena nila setitik. Nah lo kenapa bawa-bawa nila setitik,  masalahnya apa?

Karena beberapa kali kalau mengurus visa, saya harus memprint-out buku tabungan saya untuk memberikan bukti salinan transaksi saya selama 3 bulan terakhir, sebagai bagian dari syarat mengurus visa. Maka dalam waktu yg relatif singkat, buku tabungan saya itu sudah penuh semuanya. Lah itu buku tabungan BCA hanya 8 halaman saja. Kalau rutin diprintout, dalam sekejab juga sudah penuh, maka harus diganti buku baru. Buku baru booo.

Saya itu sejak mulai kerja sampai hari ini belum pernah ganti buku tabungan. Alamak lama banget ya. Saya tak pernah pusing dengan urusan print-out buku tabungan. Ngapain juga saya mesti ngabisin waktu buat print-out buku tabungan, saya tak butuh sama sekali. Secara transaksi keuangan saya tidak terlalu banyak. Paling hanya transaksi keluar masuk uang saja. Ditambah lagi, saya tak punya tabungan lain di bank mana saja. Selain di BCA. Itu pun nomor akun saya hanya satu saja.hehehe. Kelihatan kurang gaya ya hahaha.

Sejak saya rajin memprint-out buku tabungan saya, maka dalam hitungan bulan saja, buku tabungan saya yg hanya 8 halaman itu habis ludes dan mentok. Inilah awal masalah buat saya. Saya harus ganti buku tabungan. Dengan rasa percaya diri, saya pun berangkat ke BCA dengan niat hanya ganti buku tabungan. Saya hanya bisa keluar kantor pas jam istirahat makan siang. Kebayang khan hanya kurang lebih 1 jam. Dalam hati saya, hanya ganti buku, pasti gampanglah.

Pas saya tiba di BCA pukul 12 siang, alamak antrian orang-orang yg ada di sana sudah mengular. Mau di Customer Service keq, mau di loket keq bahkan di ATM pun antri juga. Saya masuk dan bilang ke bapak satpam di sana bahwa saya mau ganti buku tabungan. Kata bapak satpam, harus ambil nomor antrian. Saya jawab : Oke,pak. Pas di kasih nomor antrian sudah nomor 83. Busyet. Kapan selesainya? Saya lihat di layar, jam 12 siang tapi masih nomor 40. Ampun dah. Saya pilih menyerah. Balik lagi ke kantor.

Besoknya saya ganti strategi baru, datang ambil kartu pukul 10 pagi. Karena di kantor saya, ada jam istirahat pukul 10an sekitar 10 menit, saya bisa ambil nomor antrian. Gila, jam 10 pagi tapi nomor antrian saya sudah nomor 69. Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkk. Walaupun nomor ini, nomor cantik, tapi kali ini, ini nomor terburuk yg pernah saya lihat. Saya rasanya mau marah, tapi tak berdaya. Ini bener-bener birokrasi yg buruk sekali. Saya jengkel banget. Saya tanya bapak satpam, jam berapa tutup customer service? Jam 15an tutup katanya. Memang antrian sebanyak ini bisa selesai pak? Sekarang aja jam 10an masih nomor 9. Oh tetap harus dikerjakan sampai selesai sich. Kadang-kadang sampai jam 17an katanya. Bener-bener speechless. Saya balik lagi ke kantor dengan wajah muram.

Jam 12an siang saya datang lagi, gila nomornya masih nomor 25. Saya geleng-geleng kepala. Tak habis pikir. Hanya Tuhan yg tahu seperti apa perasaan saya. Selama ini saya tak pernah tahu betapa rumitnya mengurus dokumen di customer service BCA. Saya hanya pakai internet banking dan ATM saja. Yah saya tahunya BCA itu TOP BGT. Semuanya gampang dan efisien sekali. Bertahun-tahun saya tak pernah mengeluh. Bahkan sangat puas dengan pelayanan BCA. Kali ini rasa itu bener-bener menguap. Memang bener sih, dulu teman saya pernah bilang begini ke saya, malas pakai BCA, dimana-mana antri katanya. Betul memang ATMnya ada dimana-mana, tapi tetap saja antrianya sungguh panjang dan mengular saat ambil uang di ATM.Anehnya saya tak pernah merasa susah ambil uang cash karena saya selalu ambil uang di Alfa Mart. Kalau butuh uang cash, saya belanja 20ribu rupiah di Alfa Mart dan saya bisa ambil cash di sana, jadi saya nga perlu ambil uang di ATM BCA.  Kalau belanja bulanan pun saya semuanya pakai debit BCA jadi nga pernah pusing mikirin ambil uang cash.

Walaupun kecewa berat, pukul 16:30an saya keluar kantor lagi dan balik ke BCA. Pintu utama sudah tertutup, tapi saya lihat dari celah pintu kaca kalau para staff di customer servicenya masih sibuk mengurus sisa nasabah yg ada di sana, entah sejak jam berapa saya kurang tahu. Mungkin seharian mereka, ada yg nongkrong di sana. Gila.

Saya memberanikan diri masuk dan bapak satpam bertanya ada keperluan apa? Saya bilang tadi pagi saya sudah antri tapi panjang, jadi saya balik lagi. Jam 12 siang saya datang masih panjang, saya balik lagi. Sudah 2 hari  berturut-turut saya mau ganti buku tapi antriannya panjang begini. Tapi pak satpam bilang sudah tutup. Saya bilang ini saya sudah punya nomor antrian nomor 69, gimana dong? Masak ngurus ganti buku saja saya harus cuti seharian pak? Yah itu aturannya katanya. Iyah tapi saya sudah 2 hari hasilnya sama saja. Mau pagi keq, mau siang keq tetap aja antriannya panjang. Kapan bisa dapat antrian yg pendek? Iyah semua orang datang jam 8 pagi sudah rebutan nomor katanya. Gila gila gila, mau nabung di BCA saja kayak mau antri dapat uang zakat euy, luar biasa banget. Lalu dengan wajah yg sudah kesal, saya bilang : Pak, bantu donk. Saya bener-bener hanya ganti buku pak. Satpam kasihan lalu mondar-mandir tanya staff CS-nya, boleh atau tidak? Meskipun dengan sedikit bersitegang dengan satpam, akhirnya mereka setuju melayani saya. Saya disuruh menunggu satu orang nasabah lagi di depan saya. Saya lihat dilayar masih antrian nomor 67. Damn! Saya nomor 69, nomor cantik tapi buruk rupa di mata saya.

 Tiba giliran saya, hati saya sudah mulai tenang. Drama mengganti buku tabungan ini akan segera berakhir di sini tepat pukul 5 sore. Saya segera menyerahkan buku tabungan yg lama ke CS. Sambil mengambil buku lama, dia bertanya bisa pinjam KTP mbak? O, tentu bisa donk. Dengan sigap saya memberikan KTP asli saya. Segera dicek staff CS ini dengan cepat. Tandatangan saya yg ada di buku tabungan dilapisi kertas karbon dilembaran pertama segera dicek di lampu UV dan dicocokkan dengan tandatangan yg ada di KTP saya, psstttttttttttt dalam hitungan kurang dari sekian detik, sang petugas dengan initial “L” ini menyerukan kalimat yg bikin saya pusing 7 keliling, tandatangan saya beda katanya. Saya bilang beda dimana mbak?Seingat saya, saya belum  pernah ganti tandatangan, kenapa beda ya. Saya bilang yah namanya tandatangan khan tidak mungkin sama persislah. Pasti ada beda sedikit. Iyah tapi ini beda jauh katanya. Lalu dia membantu saya melihat di sinar UV. Tetap saja saya tak bisa lihat dengan jelas. Karena melihat dari balik kaca mejanya,dibawah meja CS itu ada sinar UV. Lalu dia Bantu meniru tandatangan saya. Yg sekarang tidak ada garis kayak huruf “Y” sedangkan yg lama ada goresan huruf katanya. Saya panik dan kesal bilang begini, mana bisa saya cek setiap kali tandatangan harus persis sama banget. Coba aja kalau sehari 50 kali tandatangan, memang bisa sama tanya saya. Yah tapi ini beda sekali mbak katanya lagi. Yah mana saya ingat tandatangan bertahun-tahun yg lalu dengan tandatangan yg sekarang itu. Dia mencoba minta SIM saya, tetap saja beda banget. SIM & KTP saya sama goresannya tapi dengan buku tabungan beda katanya.

Saya pusing dan kesal, terus tanya sebaiknya saya harus bagaimana? Dia bilang ada 2 cara katanya, ganti KTP dan samakan  tandatangan dengan  dengan buku tabungan atau tutup rekening yg lama buka rekening koran yg baru katanya. Yah nga bisa donk mbak, masak saya harus mengganti semua dokumen saya sih. Belum harus lapor ke bagian payroll ganti nomor akun bank. Belum lagi saya harus ganti Key BCA. Belum lagi saya harus mengantri ulang mengurus ganti nomor akun BCA. Membayangkan itu saja, perut saya langsung mulas dan kesal banget. Melihat intonasi suara saya yg meninggi, si mbak CS, berinisiatif mau tanya pimpinannya. Saya berharap sambil komat-kamit agar semuanya lancar, tapi pas dia balik lagi dengan wajah pura-pura menyesal, bilang bahwa pimpinan bilang tidak bisa. Tamatlah saya. Dari satu kesialan beralih ke  kesialan berikutnya. Mimpi apa saya tadi malam, kog harus mengalami sore hari yg berat begini. Dari urusan visa jadi melebar sampai ke urusan tandatangan saya yg tidak sama, terus kudu ganti nomor akun segala. Oh lala efek-dominonya ke mana-mana. Saya nga tahu mau marah atau apalagi. Saran si mbak CS supaya coba ganti KTP dan tandatangan di KTP saya dibuat sama dengan yg ada di buku tabungan saya, malah bikin saya kesal dan berang.Bukankah sama saja, birokrasi di bank dan di kelurahan sama buruknya. Yg mudah diperumit dan yg sulit dibikin impossible. (Kalo lagi begini, saya pengen banget berubah jadi Mac Gyver atau jadi Tom Cruise kayak di film Mission Impossible )

Wajah saya yg tak karuan karena kesal, membuat si mbak, menyarankan saya datang besok siangnya dan tak perlu antri lagi, untuk membuka akun baru dan menutup rekening koran yg lama.  Sikap baik si mbak CS ini tak mengubah mendung di hati saya. Dengan terpaksa saya menyerah dan segera beranjak pulang, Sepanjang jalan saya merenung, bagaimana mungkin urusan tandatangan ini membuat semua jadwal saya berantakan. Bagaimana mungkin saya mengingat setiap detail tandatangan saya bertahun-tahun yg lalu. Damn!

Saya pikir sudah saatnya BCA merubah tanda pengenal atau identifikasi setiap nasabahnya, dengan menggunakan  fingerprint saja. Lebih praktis dan masuk di akal. Daripada ngurusin setiap tandatangan yg bisa berubah sewaktu-waktu dan gampang juga ditiru. Belum lagi bisa disalahgunakan oleh pihak lain kalau pintar meniru tandatangan. Ahhh mumet mumet. Sekarang setelah drama tandatangan ini, saya baru sadar bahwa tandatangan itu penting. Penting banget. Walaupun saya marah dan jengkel sekali, tapi sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi, nasi sudah menjadi bubur.Tandatangan tak sama membawa sial.

Moral of the story :
1. Jangan pernah anggap remeh tandatangan kamu. Tandatangan itu penting.
2. Saat buka rekening koran, pastikan tandatanganmu sama dengan tandatangan di KTP atau SIM
3.Walaupun saya jengkel dengan pihak bank, tapi sebenarnya mereka sudah menjalankan tugasnya dengan baik. (Saya marah, karena saya butuh sekali dengan buku itu)
4. Pastikan saat buka rekening koran baru, kamu harus menyalin atau menfotokopi bentuk tandatangan kamu saat buka rekening baru tsb. Jadi pas ganti buku kamu harus tandatangan persis kayak yg ada dibuku. Simpan baik-baik fotokopi tsb. sebagai dokumen penting.

nuchan052011
tandatangan itu penting

10 comments:

  1. eh mbak.. emang klu mau ganti tanda tangan, smua dokumen apa harus diganti? ijazah termasuk ? :-0
    apa KTP doank?

    lovely_punkz_gto@yahoo.co.id

    ReplyDelete
  2. setau saya cuma KTP kudu sesuai dengan data yg kita perlukan saja...

    Kalau sudah kerja khan ijazah nga penting lagi hehhehe
    Kalo melamar kerja mungkin perlu yah...Yg penting KTP harus sesuai dengan dokumen yg diperlukan hehhehee

    ReplyDelete
  3. Yaaa... saya setuju, meski tanda tangan penting bngt, tp untuk kasus spt itu dan semacam nya.. fingerprint saja lbih masuk akal..

    Husin.99

    ReplyDelete
  4. wow kaget juga baca nih cerita ... soalnya saya besok mo ngurus Rek. Koran juga di BCA ... tapi rek. BCA saya itu di buatnya di Menado pake KTP menado, bisa ngga ya Rek. BCA Menado buat Rek. Korannya di Jakarta? ... harusnya bisa ya kan katannya udah online ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Bruce, harusnya sih bisa yah..BCA sih saya pikir bank yg paling praktis dan punya fitur yg lumayan baik..cuma sebel saja karena urusan tanda tangan ini bikin ribet...

      Delete
  5. sama mbak, baru kemarin saya biz dr bca mau aktifin mobile banking dan ternyata ttd di buku rek saya yg which is saya buat 6 tahun lalu katanya beda dengan yg sekarang X_X...
    mo ngurus lg males.. kudu cuti segala cape deeehh..

    ReplyDelete
  6. Kalo kasus di atas penulis saat itu mungkin masih belum mengerti apa yang terpenting dari tanda tangan. Kalo sampai bank BCA menganggap tanda tangan penulis beda kemungkinan bukan ke presisian bentuknya yang jadi masalah, melainkan titik penekanan pada media dan letak goresannya. Tanda tangan saya sendiri beda, namun permasalahannya tak bisa di verifikasi menggunakan scanning. Akhirnya menggunakan cara manual(meraba tekstur media mirip seperti membaca huruf braile)

    ReplyDelete
  7. Mohon penjelasannya saudara,
    Tanda tangan dan NIK di SIM
    berbeda dengan
    tanda tangan dan NIK di KTP
    soalnya Kartu Keluarga sudah diubah, dan so pasti KTP nya juga ikut ter ubah.
    karena KTP yag lama sudah diubah dengan KTP yang baru.
    Yang saya bingung, bagaimana nanti kalau perpanjangan SIM??? apa bermasalah??
    salam

    ReplyDelete
  8. Mohon penjelasannya saudara,
    Tanda tangan dan NIK di SIM
    berbeda dengan
    tanda tangan dan NIK di KTP
    soalnya Kartu Keluarga sudah diubah, dan so pasti KTP nya juga ikut ter ubah.
    karena KTP yag lama sudah diubah dengan KTP yang baru.
    Yang saya bingung, bagaimana nanti kalau perpanjangan SIM??? apa bermasalah??
    salam

    ReplyDelete
  9. setelah itu solusinya gimana mba ?
    kejadian itu sperti yg saya alami saat ini,
    mohon di balas untuk solusinya ,

    ReplyDelete