Sunday, August 1, 2010

Dididik dengan cara berbeda Serial 2

Di kampung saya ujian kenaikan kelas, ujian kelulusan sekolah baik SD,SMP,SMA menjadi sebuah momen penting dan bersejarah bagi setiap keluarga. Bayangkan pada kesempatan seperti inilah para orang tua unjuk gigi dan kemampuan mereka sebagai orang tua dipertaruhkan di dalam masyarakat maupun lingkungan tempat tinggal mereka. Kalau ada anak yg tidak naik kelas atau tidak lulus sekolah , maka seluruh penduduk kampung akan tahu peristiwa ini, dan urusan seperti ini akan menyebar secepat kilat bagai kilatan petir yg sambar menyambar dari satu mulut ke mulut yg lainnya. Penyakit bergosip-ria  ini sebenarnya sudah mendarah daging buat sebagian orang  Indonesia, sudah dari dulu ada, jadi dengan adanya acara berita gosip di TV saat ini,. itu hanya membuat penyakit ini sulit diberantas. Capek dech!

Berita bahwa kakak perempuan saya tak diterima masuk di SMA Negeri 1, telah menyebar kemana-mana. Berita ini membuat ayah saya syok bukan kepalang, dia tak menduga bahwa putri kesayangannya  itu akan gagal total memasuki SMA Negeri favorit. SMA Negeri 1 ini adalah  salah satu SMA yg paling diminati karena reputasinya yg baik dan tak diragukan lagi dalam hal mengantarkan putra-putri dari daerah saya  untuk memasuki perguruan tinggi negeri ternama di Sumatra. Mungkin ayah saya sudah merenda mimpinya begitu tinggi, sampai-sampai dia begitu  syok mendengar kabar ini. Saya yg mendengar kabar itu biasa-biasa saja. Tak ada yg perlu diributkan. Yah kalau gagal masuk SMA Negeri 1, toch masih banyak SMA yg lainnya. Tapi bagi ayah saya ternyata tidak sama, bagi dia penting untuk menempatkan putri kesayangannya ini bersekolah di tempat yg paling baik dan bagus. Selain untuk gengsi dan kebanggaan dirinya sendiri, juga sebagai jaminan bahwa putrinya akan bisa memasuki perguruan tinggi ternama juga. Sayang impian ayah saya harus terhambat sesaat dengan kejadian ini.

Tak ingin larut dengan kejadian tersebut, ayah saya memutuskan untuk mendaftarkan putri kesayangannya itu masuk SMA swasta paling bergensi di kampung saya. Bukan biaya sekolahnya saja yg mahalnya bukan main, tapi sekolah ini pun didominasi oleh murid-murid yg keturunan Tionghoa. Pendirinya, guru-gurunya dan murid-muridnya hampir 95% orang Tionghoa.

Kulit putih bersih dan mata sipit membuat kakak perempuan saya dengan mudah diterima di sekolah swasta ini. Walaupun dalam satu kelas, hanya kakak perempuan saya yg asli pribumi tidak membuat dia merasa asing ditengah-tengah murid-murid yg berdarah Tionghoa. Yg lebih unik lagi, kakak perempuan saya ini dalam waktu singkat sejak masuk SMA swasta ini, bisa menguasai bahasa  Hokkien untuk media komunikasi dengan teman-teman satu sekolahnya yg mayoritas berbahasa Hokkien. Umumnya masyarakat Tionghoa yg bermukim di Sumatra Utara,Riau,Padang dan Jambi  menggunakan bahasa Hokkien sebagai bahasa sehari-hari. Karena kebiasaan mereka yg unik ini, jangan heran kalau Anda menemukan orang Tionghoa yg berasal dari Pulau Sumatra akan sangat sulit melafalkan bahasa Indonesia dengan benar. Mereka berbicara seperti orang cadel saja. Bahkan yg lebih parah lagi ada yg sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia. Ini disebabkan karena mereka tidak bergaul dengan masyarakat pribumi.

Keahlian mereka tak lain tak bukan adalah berdagang. Hampir seluruh pasar didominasi oleh pedagang Tionghoa, mulai dari pasar sayur, ikan,beras,buah-buahan, toko kelontong,toko pecah-belah, toko pakaian, toko perhiasan, sampai jajanan pasar dan tukang mie pangsit semuanya dirambah pedang Tionghoa,
To be continue,
nuchan@01082010
copyright


No comments:

Post a Comment