Monday, August 16, 2010

Apakah masih sama seperti yg dulu?

Hari ini 16 Agust 2010, sehabis kerja saya berencana mau berenang. Kartu berlangganan saya 21 August 2010 akan segera berakhir, sementara sisa voucher yg belum dipakai ada 4X lagi. Daripada hangus rugi donk hehehe jadi saya pikir habis kerja saya akan berenang saja. Sebelum berangkat kerja saya sudah menyiapkan semua pakaian dan perlengkapan renang saya, mulai dari handuk kecil, baju renang, kaca mata,topi renang,CD ganti,samphoo dan sabun mandi. Saya sudah membayangkan kolam renang akan sepi di bulan Ramadhan...hehehe dan saya akan leluasa berenang hilir mudik ke sana ke mari hehehe membayangkannya saja saya sudah senyum-semyum sendiri.


Pukul 15:35 sore bel tanda pulang berbunyi. Tapi seluruh tubuh saya gemetar karena lapar banget. Hari ini saya tidak makan siang, hanya minum kopi nescafe segelas dan roti Marie Regal satu bungkus kecil. Hilang sudah keinginan saya untuk berenang. Tubuh saya lemas banget. Tetapi tiba-tiba sayup-sayup dari kejauhan saya mendengar lantunan lagu Indonesia Raya. Saya mencoba mencari sumber suara tsb dan berdiri di dekat jendela dari lantai 2,  ternyata di bawah gedung dekat sekuriti sedang ada latihan upacara mengibarkan  Bendera Merah Putih dalam rangka Pesta Dirgahayu RI ke-65 17 Aug 2010. Saya melihat beberapa orang petugas dari salah satu channel televisi Indonesia sedang meliput acara tersebut, katanya dalam rangka menyambut kerjasama bisnis beberapa perusahaan Joint Venture Indonesia - Japan yang ke-50 jadi sedang diliput dan diwawancarai hehehe...ayak-ayak wae!

Waktu sudah menunjukan pukul 16:00 saya pun siap2 merapikan meja kerja saya dan bergegas mau pulang saja. Semua dokumen saya rapikan dari atas meja kerja karena besok libur lagi, biasalah Harkitnas hehehe. Saya bersalin pakaian dan segera turun ke bawah. Menuju area parkir dan dengan rasa hati mendua tetap berangkat untuk berenang.

Melihat teman-teman saya yg sedang bersemangat latihan untuk upacara 17-an, tiba-tiba ingatan saya melayang ke masa lalu sewaktu sekolah dulu. Setiap kali memasuki bulan Agustus maka seluruh warga di kampung saya sudah heboh seperti menyambut pesta luar biasa dan aura pesta "Kemerdekaan" sudah bergaung kemana-mana. Karang taruna di kampung saya hampir setiap malam rapat dan rapat membahas acara-acara apa saja yg akan dilakukan menyambut tujuh belasan tahun ini. Panitia pun disusun walaupun ala kadarnya. Yg paling sibuk biasanya bagian seksi dana minta sumbangan ke setiap warga untuk biaya membuat gapura, membeli bahan-bahan untuk panjat pinang, biaya untuk lomba karung, biaya untuk lomba makan krupuk, biaya untuk lomba tarik tambang dan lain-lain. Berbagai hadiah menarik untuk para juara sudah dipersiapkan dengan matang oleh para panitia.

Dan dari semua acara yg paling saya sukai adalah lomba sepeda hias. Berbagai macam  sepeda hias yg sudah dihias seindah mungkin dengan bahan kertas minyak didominasi warna merah putih dan sepeda hias ini akan berparade bersamaan dengan para putra putri yg  ditunjuk memakai pakaian adat tradisional Indonesia dari Sabang sampai Merauke diiringi "Marching Band" yg gegap gempita luar biasa berkeliling kota.

Dan setiap kali mayoretnya memutar-mutar tongkatnya dengan cara yg indah maka para penonton yg bejibun di pinggir jalan akan berteriak histeris tanda kagum luar biasa. Dan entah kenapa setiap mayoret yg ditunjuk pasti badannya tinggi, sexy dan cantik sekali. Saya selalu terpesona saat dia memutar2 dan melempar tongkatnya ke udara, saya selalu menahan nafas antara khawatir dan percaya bahwa dia pasti berhasil menangkap tongkat itu dengan indah, dan kemudian saya akan bertepuk tangan dengan gembira saat dia berhasil menangkapnya seolah-olah saya larut dgn permainannya.

Saya dan teman-teman saya beramai-ramai ikutan berjalan kaki mengikuti parade karnaval ini keliling kota dan diakhiri dengan berkumpulnya semua peserta dialun-alun di depan Kantor Bupati. Seluruh tribun dialun-alun sudah sesak dengan manusia. Dan pedagang keliling serta tukang es cendol pun berserakan dimana-mana. Ini adalah pesta akbar Dirgahayu Kemerdekaan RI yg selalu saya nanti-nantikan setiap tahunnya. Seluruh penduduk kampung akan keluar rumah menuju ke satu tempat yaitu alun-alun di kota saya. Semua orang terlihat semangat dan antusias luar biasa...Suara tabuhan Drum Band yg bersahut-sahutan membahana sudah membakar semangat api "Kemerdekaan" setiap urat nadi bangsa Indonesia dan kenangan  indah itu tak pernah hilang dari benak saya sampai detik ini.

Pada saat 17-an, selalu ada  petugas khusus Paskibraka ( Pasukan Pengibar Bendera Pusaka ) dan mereka biasanya dipilih dengan seleksi yg super ketat. Mereka dipilih dari putra putri terbaik dari setiap sekolah dan tinggi tubuh wanita min 160cm dan pria min 165cm. Tubuhnya pun harus sehat walafi'at. Bayangkan mereka dilatih dengan acara baris berbaris, tapi irama berbaris dan berjalan mereka harus serempak dengan ketinggian mengangkat kakinya harus persis sama. Mereka juga dilatih secara fisik agar kuat saat berdiri berjam-jam dengan sikap tubuh yg tegak membusung dadanya. Latihan ini umumnya sangat berat dan mereka berlatih satu bulan penuh diterpa hujan dan panas, mereka berlatih layaknya militer yg dapat pendidikan dasar. Dan putra putri yg berhasil lolos menjadi pasukan Paskibraka ini akan tersohor ke seantero kota saya, mereka seperti para pejuang yg menang di medan pertempuran, sekembalinya ke sekolah mereka pun tak ubahnya bak seleb mendadak dangdut dikerubutin terus sama para penggemarnya hehehe..Wuih kerenlah pokoknya hehehe. Selain dapat peningkatan gizi selama pelatihan ini, mereka pun dikasih hadiah dan uang saku dari Bp.Bupati...hehehe Jadi iri euy...

Dan itu terjadi dulu dulu sekali semasa saya masih remaja dan tempatnya pun sangat sangat jauh nun di ujung Timur Sumatra. Kini setelah tahun-tahun berlalu begitu cepat dan saya pun terdampar di Pulau Jawa ini, saya pun nyaris  tak pernah lagi merasakan api semangat "Kemerdekaan" yg dulu dulu sekali pernah melekat di sanubari saya. Entah kenapa saat ini saya melihatnya hanya sebagai ritual atau seremoni belaka, tak ada nafas dan aura "Kemerdekaan" yg sesungguhnya. Mungkin rasa dan semangat itu sudah hilang menguap tertiup angin bersamaan dengan hilangnya rasa kepercayaan saya terhadap pemerintah, anggota dewan, dan para petinggi yg terhormat  yg selalu mengumbar-umbar janji-janji palsu dan pengkhianatan demi pengkhianatan yg dilakukan oleh para petinggi negeri ini terhadap rakyat jelata, seperti para korban Lapindo yg terpaksa merayakan Dirgahayu Kemerdekaan RI dari penjajahan asing tapi kini mereka dijajah oleh penjajah dari bangsanya sendiri dan mereka terpenjara dilingkaran lumpur Sidoarjo... Lalu masihkah sanggup mereka berteriak : Merdeka! Merdeka! Merdeka! Entahlah. Mungkin kita harus mencari jawabnya hanya pada rumput yg bergoyang...

Tanya tak berjawab ini terus tergiang-giang di telinga saya : Apakah masih sama seperti yg dulu?
Hati saya diam membeku dan membatu...karena terlalu lama ditipu dan ditipu....

nuchan@16082010
copyright

No comments:

Post a Comment