Sunday, August 14, 2011

Hard Rock Bali & Kuta Beach

Di dekat Kuta Beach berdiri megah bangunan Hard Rock Bali. Saya coba singgah di Shopping Centre Hard Rock Bali ini. Tujuan saya hanya satu, pengen ngecek harga selembar kaos yg bertuliskan Hard Rock Bali. Saya berharap harganya masih terjangkau kocek saya sekitar 100-150ribuan. Dengan rasa percaya diri saya masuk ke Shop Centre tersebut. Saya disambut 2 orang petugas penjaga toko, dua-duanya secara fisik lelaki, tapi dari cara bicara dan gerak tubuhnya, rasa-rasanya setengah lelaki sih, suaranya terdengar rada halus dan merdu, tidak terdengar suara bass, mirip Ivan Gunawan. Tapi satu lelaki lagi yg bertugas sebagai kasir terlihat halus dan lemah gemulai tapi cara bicaranya masih terlihat seperti lelaki, tapi gerak tubuhnya gemulai bak penari. Apakah mereka lelaki tulen atau tidak, saya pun tak menelaah sejauh itu.

Singkat cerita mata saya pun sibuk mengecek kaos-kaos yg dipajang disana, khususnya kaos yg buat ukuran cewe mini kayak saya. Banyak model dan desain yg manis-manis, tapi ketika mengecek label harganya ndilala mahal sangat buat ukuran kocek saya. Selembar kaos  bertuliskan Hard Rock Bali ini dibandrol seharga 350ribu rupiah. Lama saya berpikir di sana, beli tidak,beli tidak,beli tidak, hati dan pikiran saya berantem, sibuk berkalkulasi, gila buat apa beli kaos semahal itu, toh kalaupun beli tak akan ada yg peduli dengan harganya. Secara fungsi kaos itu hanya bisa membalut setengah badan saya, tapi kalau dengan nilai nominal  yg sama 350ribu rupiah di Pasar Murah Sukawati, maka saya bisa beli 10 lembar kaos yg saya suka. Otak saya terus berlogika,untuk membatalkan niat saya membeli kaos itu. Saya tergoda membeli selembar karena ingat teman saya di Jepang, namanya Chiba Seleb, dia sangat fanatic dengan berbagai benda yg diproduksi oleh Hard Rock. Setiap kali berkunjung ke berbagai negara dan berbagai kota, maka teman saya yg bernama Chiba Seleb ini, akan singgah di Hard Rock untuk membeli souvenir. Hebat. Kalau melihat harga bandrol Hard Rock yg sangat mahal ini, saya malah merinding, membayangkan berapa banyak uang yg dihabiskan teman saya ini, untuk mengoleksi produk-produk buatan Hard Rock ini.

Pada akhirnya setelah cape berlogika dengan otak saya, hati saya akhirnya mengalah. Saya batal belanja di Hard Rock Bali. Dengan senyum meringis, saya mengucapkan terima kasih kepada pelayan tokonya. Saya pun keluar dengan lesu menuruni anak tangga, dan memutuskan untuk nongkrong dulu di Kuta Beach sambil mendengar deburan ombak. Siang itu langit di Kuta sangat cerah, matahari bersinar garang tapi tidak terlalu panas di kulit saya. Udara yg relative nyaman karena hanya berkisar 25-27 derajat saja. Oh Kuta Beach hari itu sangat biru dan indah sekali.


Sepanjang pantai dipenuhi para turis dari berbagai negara. Bahkan turis lokal pun tak kalah ramainya. Ditambah para pedagang asongan yg sama banyaknya dengan turis, maka tak pelak suasana Kuta Beach seperti dihuni ribuan orang yg berlalu-lalang di pinggir pantai yg berpasir putih. Hampir setiap jarak 1 meter, saya pasti menemukan pedagang asongan yg sedang menawarkan  dagangannya. Saya pikir Kuta  Beach ini mirip salon kecantikan dan toko serba ada tapi statusnya outdoor. Sepanjang saya menyusuri pantai, maka saya melihat kumpulan orang bule yg sedang membentuk grup-grup masing-masing sambil berpesta bir bintang. Mereka terlihat santai dan sangat menikmati pesta bir di siang hari. Kursi-kursi malas yg disediakan para pedagang bir di sana membuat para bule-bule ini betah berleyeh-leyeh di sana. Sambil bertelanjang dada mereka menenggak bir bintang botol demi botol. Saya nga tahu, bisa mabuk nga sih, kalau minum bir dalam jumlah yg banyak. Rasanya para bule ini minum bir kayak minum juice saja hahaha.

Kuta Beach bukan hanya sekedar pantai buat saya, tapi juga salon kecantikan,toko serba ada dan resto outdoor di mata saya. Saya memilih duduk dibawah pohon rindang yg teduh sekali, yg tumbuh disekitar Kuta Beach dan dekat dengan pagar pembatas antara jalan raya dan area Kuta Beach. Sambil memesan air kelapa muda  segar dan rujak pedas yg dijual di sana. Saya duduk di kursi malas yg disediakan pedagang asongan di sana. Sambil minum air kelapa muda, saya asyik menonton para bule-bule yg dikerubungi para pedagang yg menjajakan barang dagangannya. Mulai dari kaos-kaos  yg bertuliskan Bali, selendang khas untuk pantai dengan motif yg sangat cantik, aksesoris dan perhiasan yg cantik terbuat dari perak dan mote-mote, bahkan ukiran dan patung pun dijual di sana. Segalanya ada. Ada pelukis tatto di tubuh yg dengan gigih menawarkan jasa tattoonya, sambil memperlihatkan contoh-contoh tatto yg cocok untuk para turis mancanegara. Biaya yg ditawarkan pun sangat murah mulai dari 50-100ribu untuk harga per tattoo. Kamu pasti suka dengan hasil lukis tattoo di Kuta. Saya sampai berpikir, betapa nikmatnya hidup para pelukis tatto ini, mereka bisa bebas melukis tubuh telanjang para bule ini hehehe. Terkadang seorang pelanggan ditangani 3-4 orang penjual jasa yg berbeda, satu tukang pijat, yg sedang memijat punggung, satu lagi sedang melakukan manicure & pedicure, dan satu lagi sedang melukis tatto di kaki pelanggan tersebut dan terakhir penjual aksesoris wanita dengan kalung-kalung manis dan eksotik, cincin dan gelang indah. Mantap. Si bule yg jadi pelanggan ini terlihat sangat menikmati perannya sebagai raja sehari. Bir dingin di tangan si bule ini terus ditenggak, sembari punggung dipijat enak sama pemijat pro di sana, manicure & pedicure dilanjutkan dengan menggunakan cat kuku dengan warna-warna yg super cerah, menambah cantik kuku-kuku para bule ini. Ohlala nikmatnya. Cukup dengan modal 200ribu rupiah, para turis ini sudah mendapatkan pelayanan kelas satu ala Kuta Beach.

ngantuk euy besok aja yah

No comments:

Post a Comment

Post a Comment