Sunday, December 15, 2013

My journey & my impression of Japan during Autumn on Nov 2013



1st day, 09 Nov 2013

Packing pakaian yg harus saya bawa ke Japan.
Membuat keputusan harus backpack atau bawa koper? Hasilnya bawa koper just in case kalau beli oleh-oleh bisa dimasukkin ke koper juga. Nga niat belanja sich. Hahaha
Sebelum berangkat sempat ke salon juga buat masker rambut and manicure and padicure juga hehehe cewe banget ya…
Berangkat ke bandara pesan taksi bluebird, busyet jarak dekat kena 100ribu rupiah. Tiba di terminal 2 D masih jam 21.40pm
Cari BCA ambil uang 500ribuan dan cari toilet buat pipis plus merapikan wajah.

Check in di counter GA. Tadinya mau check in di bagian Corporate tapi liat petugasnya jadi nga minat. Akhirnya pindah ke International General Check In. Wah sama juga petugasnya udah sleepy banget sampai lupa ngecek paspor saya hahaha. Udah pas mau bayar airport tax baru petugas sadar passport saya belum dicek. Hmm sleepy banget ya …Saya juga sama ngantuk banget.

Btw untuk pajak belum termasuk di dalam tiket, khusus penerbangan international GA airport tax harus bayar lagi 150ribu. Katanya khusus penerbangan domestic, harga tiket sudah termasuk airport tax di GA.

Saya menuju gate E3, suasana bandara sepi banget. Mungkin karena terbang pagi dini hari jadi penumpang sedikit banget. Hanya satu dua orang saja yg lewat di sekitar gate E. Bangku ruang tunggu banyak yg kosong.

Lucky for me, terbangnya ontime sesuai yg tertera di tiket. Saya duduk di Seat 16F dekat lorong (aisle) dan sederet bangku saya kosong semuanya. Oh nikmatnya saya bisa tidur layaknya di sofa saja, pakai bantal 2 dan selimut juga 2. Mantap. Bayar satu tiket tapi bisa bobo sepanjang perjalanan 7 jam hahaha. Mungkin karena rute baru jadi yg terbang malam hari masih sedikit. Padahal bagus lo bisa bobo selama penerbangan 7 jam. Saat tiba sudah pagi hari di Osaka, jadi bisa langsung sightseeing hehehe.

Saat pesawat sudah mencapai ketinggian 40,000 kaki suasana dalam pesawat bertambah dingin. Sangat dingin. Saya semakin bergulung dalam selimut dan tak perduli lagi dengan minuman pembuka dari GA. Saya tenggelam dalam mimpi.

Saya bangun saat petugas memberikan makanan pagi sekitar jam 7 pagi. Saya minta bubur nasi ala Jepang aja. Lumayan enak untuk mengganjal perut saya.

Selama penerbangan kami mengalami 3X turbulensi di udara. Tapi karena mengantuk saya nga terlalu memperhatikannya. Tapi saya yakin turbulensinya kuat banget. Rasanya kayak diguncang.

Rencana penerbangan kami hanya 6 jam 55 menit. Tapi karena ada 3X turbulensi jadi baru mendarat pukul 10:30am.

Antrian di Imigrasi KIX Airport sudah panjang dan mengular. Luar biasa. Kasihan Mamiya san dan suaminya pasti sudah menunggu saya lama. Tetapi seperti biasa negeri Sakura ini memang terkenal sangat efisien dalam mengurus segala bentuk administrasi. Ketika antrian untuk foreigner sudah mengular maka sebagian dialihkan ke counter khusus orang Jepang. Dan selama proses antrian ada staff Jepang yg mengecek terlebih dulu isi dari Immigration Card yg sudah diisi oleh visitor bener atau tidak. Ketika ada yg kurang petugas tersebut menjelaskan dengan sabar apa yg seharusnya diisi. Sehingga saat sudah tiba di counter petugas imigrasi hanya verifikasi ulang dan juga meminta visitor untuk finger verification dan melakukan photo saja. Semuanya berjalan cepat dan lancar. Untuk urusan begini, saya angkat topi dengan orang Jepang. Bagus banget.Serba efisien.

Setelah selesai melewati counter imigrasi, saya segera turun menuju baggage claim. Ternyata koper saya sudah tersusun rapi berjajar dengan koper penumpang yg lainnya. Koper saya mudah saya kenali karena saya berikan cover khusus. Tidak perlu menunggu saya langsung ambil koper saya dan menuju exit door.

Sebelum exit door seorang petugas menerima kertas pernyataan barang-barang yg saya bawa. Dia bertanya tujuan saya berkunjung ke Jepang, liburan atau dinas atau training?
Saya jawab untuk berlibur. Dia tanya lagi punya kenalan atau teman di Jepang? Saya jawab dengan santai, tidak ada sama sekali. Saya malas menjawab ada, nanti malah bertanya panjang lebar dan membuat waktu saya habis meladeni pertanyaan petugas tsb. Dia tanya di mana saya menginap, saya jawab singkat  di J-Hoppers Hostel. Karena sebelumnya saya sudah pernah menginap di sana dan hapal lokasi dan alamatnya. Dia tanya di daerah mana? Gampang banget, di dekat Fukushima Station.

Melihat saya menjawab dengan cepat dan tenang, maka dia mempersilakan saya keluar. Saya keluar di pintu Selatan. Baru saja saya keluar dari exit door, saya melihat Mamiya san  berteriak memanggil nama saya. Wah betapa bahagianya saya. Saya langsung bisa ketemu dengan keluarga Mamiya-san. Kami tertawa bahagia banget. Saya menyesal membuat mereka menunggu lama. Suaminya hanya tersenyum dan bilang tidak apa-apa. Mereka senang bisa langsung bertemu. Tahun lalu Mamiya san masih sendiri tapi sekarang sudah punya baby Miuchan hehehe. Waktu berlalu begitu cepat dan dalam sekejab semua sudah berubah. C’est lavie. Saya lihat mamiya-san agak berisi badannya setelah melahirkan. Tapi Mamiya-san tetap masih langsing di mata saya.

1st day, saya dan keluarga Mamiya-san mengunjungi Osaka Castle. Ternyata saya dijemput dengan mobil sedan Honda Fit putih milik suaminya. Yah cukup untuk kami berlima, karena Miuchan bayi kecil mereka masih usia 3 bulan. Miuchan tidur di box baby di seat belakang bersama Mamiya san. Saya duduk di depan dengan Matsushima san. Lucky for me, saya mengenal mereka berdua dengan baik. Matsushima-san adalah orang Pan-s yg dulu kerja di Niigata Factory. Sedangkan Mamiya san adalah mantan sekretaris Presdir saya di kantor saya yg lama. Saya bener-bener menikmati perjalanan saya dengan mereka ke Osaka Castle.

Kami menuju Osaka Castle melalui jalan toll. Ternyata biaya toll juga mahal di Jepang yah…

Kesan saya selama menuju Osaka Castle
Mobil Honda melaju dengan lancar melalui toll. Sayang saya tidak bisa membidik kamera saya karena tersimpan rapi di koper saya. Saya sangat menyesal karena lalai memegang kamera saya. Padahal view di tol cukup menarik, karena kami melewati beberapa bridge.

Tiba di dekat Osaka Castle, kami memilih parkir di dekat gedung NHK Osaka. Banyak pengunjung yg sedang menonton sebuah acara di lobbi Lt. 1 NHK. Saya dan Mamiya san berphoto di gedung NHK. Saat keluar dari gedung NHK ada sebuah bazaar buah-buahan di dekat gedung tersebut.

Untuk menuju Osaka Castle kami berjalan kaki dan menyeberang jalan, lokasi Osaka Castle memang tidak jauh dari NHK Building. Sebelum menyeberang ke Osaka Castle kami masih sempat berphoto ria di luar gedung NHK.

Menyusuri jalanan menuju Osaka Castle terlihat pohon maple dan jajaran pepohonan tetapi belum berubah warna secara sempurna. Langit masih terlihat kelabu. Udara sangat dingin dan terasa menusuk tulang saya. Langit yg kelabu tapi tidak merubah suasana hati saya yg sedang bahagia. Keinginan saya untuk mengunjungi Osaka Castle terwujud sudah hari ini. Setelah tahun lalu saya gagal mengunjunginya karena saat itu sedang dilakukan renovasi. Memasuki lingkungan Osaka Castle, saya merasakan suasana yg sunyi,tenang dan damai. Parit besar yg mengelilingi Osaka Castle ini terlihat berwarna rada gelap dan jernih, bayangan pepohonan memantul di air yg tenang. Jembatan kokoh yg terbuat dari kayu ini terlihat gagah. Jembatan ini pun menjadi icon yg sangat menarik dibidik dengan kamera. Suasana tenang dan damai ini membuat Osaka Castle ini menjadi sebuah tempat yg layak dikunjungi setelah lelah dari riuh rendahnya suasana kesibukan kota Osaka. Batu-batu yg sangat besar dan lebar menjadi pemandangan yg unik dari arsitektur bangunan Osaka Castle ini. Luar biasa. Kalau kamu peminat wisata bangunan bersejarah, maka kastil Osaka  ini menjadi wajib untuk dikunjungi.

Sayangnya menjelang sore hujan lebat tiba-tiba tumpah ruah dari langit, membuat saya tak bisa mengabadikan pemandangan di bagian samping dan belakang kastil ini dengan sempurna. Hujan lebat menghambat saya untuk mendapatkan photo terbaik saya. Meskipun sedikit kecewa tetapi saya tetap mengambil photo terakhir saya dalam keadaan gerimis. Tapi yg lebih konyol momen terakhir yg ingin saya ambil malah gagal karena battery kamera Lumix saya tewas total alias tak bisa lagi dinyalakan karena battery sudah habis tuntas. Menyedihkan sekali.

Karena hujan deras maka kami memutuskan untuk pulang ke apartemen Mamiya san di Ibaraki. Hujan deras yg semula begitu deras kini memasuki Ibaraki sudah berhenti tetapi udara masih sangat dingin sekali. Badan rasanya sudah rontok banget ingin segera mandi air hangat dan lapar sudah menghantam perut saya. Beruntung saya diperlakukan bak princess membuat saya menjadi kurang enak dengan Mamiya san yg terlalu banyak melayani saya. Malam ini saya tidur di kamar yg luar biasa besar untuk ukuran saya. Ruangan ini sepertinya digunakan untuk tamu yg akan menginap di sini. Kamar ini hanya ada lemari baju dan AC saja. Malamnya saya disiapkan futon (matras ala Jepang) yg dipanaskan dengan sebuah alat pemanas yg ada aroma terapinya. Wah kayak menginap di ryokan saja dengan tambahan service yg luar biasa.

Malam itu saya makan malam dengan nasi kari ala Jepang. Mamiya san sengaja memasak makanan yg rada pedas karena beliau tahu saya suka makanan pedas.

Saat mau mandi air panas, Mamiya san memberitahukan saya bagaimana menggunakan ofuro dan berbagai alat mandi, sabun dan shampoo serta pelembut rambut. Mamiya san tertawa ketika saya bilang malas cuci rambut karena harus pakai air dingin. Beliau bilang harus pakai air panas meskipun hanya untuk  cuci rambut. Saya yg terbiasa di Indonesia mencuci rambut dengan air dingin menjadi ragu apakah rambut saya akan rusak juga saya mencuci dengan air panas yg hampir mencapai 40 derajat.

Malam itu saya putuskan untuk tidak cuci rambut. Mandi air hangat sudah membuat tubuh saya segar bugar dan segala kelelahan di tubuh saya menjadi berkurang. Ditambah makan malam yg lezat membuat saya seperti berada di rumah saya sendiri. Saya jadi terharu dengan usaha dan service yg diberikan Mamiya san. Berada di negara orang tetapi dipenuhi dengan kebaikan dan ketulusan tuan rumah membuat saya seperti merasa di rumah sendiri. Malam itu saya tidur dalam dekapan hangat selimut  yg sudah dipanaskan dengan aroma terapi.  Nikmat sekali. Mamiya-san, hontou ni arigatou gozaimasu.

2nd day, 11 Nov 2013

Pagi hari jam 6 pagi Mamiya san sudah membangunkan saya agar mandi air hangat. Hari ini saya harus cuci rambut dengan air hangat. Mamiya san menyediakan selembar handuk besar dan kecil. Suhu pemanas air disetting sampai suhu 40 derajat. Dan Mamiya san menjelaskan alat-alat mandi, sabun, shampoo dan conditioner. Rasanya memulai mandi dalam suhu udara yg begitu dingin membuat saya enggan mandi. Tapi kalau tidak mandi rasanya kurang nyaman. Akhirnya saya putuskan untuk mandi. Air hangat yg mengguyur tubuh saya membuat rasa pegal menjadi hilang. Ohhh nikmatnya. Saya mengguyur kaki dan leher saya dengan air yg sangat hangat untuk mengurangi rasa pegal yg membalut tubuh saya.

Sehabis mandi saya sudah disiapkan hair dryer Panasonic. Saya mengeringkan rambut di kamar. Yg membuat terharu sesudah berdandan di kamar saya sudah disiapkan makan pagi oleh Mamiya san. Sembari menyantap hidangan makanan pagi, saya dijelaskan mengenai bagaimana menuju Ibaraki Station dengan bus. Semua peta dan petunjuknya sudah dituliskan pada selembar kertas A4.

Jepang selalu membuat saya berdecak kagum. Transportasi public yg serba nyaman dan praktis membuat saya kagum dan sekaligus iri. Oh yg muncul di benak saya, kapan Indonesia bisa memiliki transportasi public sebaik ini. Mamiya san bahkan bisa membuat schedule saya secara tepat dan akurat berkat ketepatan waktu dan keakuratan data yg bisa kita ambil melalui website tentang jadwal transportasi public dan kemudian menyesuaikan info tersebut dengan itinerary saya. Kalaupun jadwal bus meleset, saya pikir tak lebih dari 1-2menit saja. Bagi saya itu sudah luar biasa banget. Untuk jadwal Shinkansen (bullet train) saya pikir 100% ontime. Luar biasa. Saya bayangkan betapa mudahnya menyusun jadwal secara akurat di Jepang berkat kepatuhan setiap transportasi public dalam mematuhi jadwal yg sudah ditetapkan. Ini tentu akan memberikan efisiensi kerja secara nasional. Luar biasa. Siapapun orang asing yg berkunjung ke Jepang, mungkin akan menyebutkan kesan yg hampir sama dengan saya. Jepang memiliki transportasi publik yg sangat bagus, nyaman  dan akurat.

Bahkan ketika saya naik bus, bus pun sangat bersih, ber-AC, memiliki monitor dan pemberitahuan di setiap bus stop yg dituju, bahkan monitor di setiap transportasi menyajikan 2 bahasa yaitu Jepang dan Inggris. Visitor asing tak perlu resah karena semuanya serba jelas, nyaman dan teratur. Jangan heran orang asing pun banyak yg menggunakan transportasi public di Jepang. Aman dan nyaman. Tapi jangan tanyakan mengenai biaya transportasi di Jepang, saya hanya punya satu kata yaitu : super mahal. Tiket termurah satu kali jalan dengan bus, menurut pengalaman saya adalah  210 Yen, setara dengan 25ribu rupiah bila dengan rate 1 Yen = 115 IDR.

Hari ini saya dan Mamiya san berjalan kaki 2 menit dari apartemen Mamiya-san Anfiny Masago 406, 6-8, Masago 2-chome, Ibaraki-shi, Osaka-fu, Japan menuju bus stop di seberang 7Eleven dan di depan Hokusetsu Tsubasa Koukou(High School), dari sana menunggu bus No.83 atau No.84 menuju JR Ibaraki Station. Hari itu saya seharusnya naik bus No.83 pukul 8.13am, tapi karena sudah terlambat 1 menit maka kami menyeberang lagi naik yg No.84 pukul 8.15am. Karena telat maka saya lari terbirit-birit mengejar bis yg akan segera stop. Karena di Jepang bus tidak akan menunggu penumpang. Mereka sangat patuh terhadap jadwal yg sudah ditetapkan.

Pagi itu saya tidak punya uang receh dalam Yen, maka uang 1,000 yen saya tukar di dalam bus.Saya duduk manis sambil clingak-clinguk memperhatikan penumpang yg naik dan turun.Mereka terlihat rapi dan modis sekali.  Dari info yg dituliskan Mamiya-san bus akan tiba di JR Ibaraki Station kira-kira 20 menit kemudian.

Seharusnya pagi ini saya menaiki Shinkansen Hikari sama persis seperti Arata Sensei, pukul 9.13am dgn Hikari 514. Tapi kartu JR Pass saya belum saya tukar di counter JR saat tiba di KIX Airport, karena hari pertama saya tiba di Osaka, saya dijemput keluarga besar Mamiya san. Saya pikir sayang kalau kartu JR Pass saya ditukar hari ini, karena masa berlakunya hanya 7 hari saja  secara berkesinambungan.

Sepanjang jalan menuju JR Ibaraki Station saya hampir 3X bertanya ke penumpang yg lainnya, apakah JR Ibaraki Station masih jauh. Walaupun saya sudah tahu dari Mamiya san bahwa jarak tempuh dari Masago 2-chome ke Ibaraki Station butuh waktu 20 menit. Mamiya san bilang saya tak perlu khawatir karena saya akan berhenti di bus stop yg terakhir untuk bus No.83 dan No.84.  Tapi tampaknya saya tetap berusaha mencari tahu. Beruntung yg ditanya dengan sukarela membantu saya.

Setelah hampir 20 menit saya akhirnya tiba di JR Ibaraki Station. Saat itu kondisi di bagian timur Ibaraki Station ini sedang dilakukan renovasi. Tapi untuk menuju station ada 2 pintu. Saya pilih naik lift yg ada di sisi kiri. Sampai di atas saya segera mencari Midori no Madoguchi (JR Ticket Office). Saya berharap bisa menukar JR Pass saya di sini. Setelah saya bertanya ke salah satu petugas di sana di mana letak Midori no Madoguchi, akhirnya saya ketemu juga. Saat saya tanya apakah saya bisa menukar JR Pass saya di sini, dengan wajah sedih petugas wanita itu mengatakan di Ibaraki Eki tidak bisa ditukar, saya harus menukarnya di Shin-Osaka Eki. Alamak. Akhirnya dengan berat hati saya membeli tiket JR Train ke Shin-Osaka seharga 210Yen. Capek deh. Sudah terburu-buru tapi tetap harus menukarnya di Shin-Osaka Eki.


Waktu saya banyak terbuang karena harus menukar dulu JR Pass saya, padahal saya janji ke Arata Sensei akan bareng ke Tokyo naik Shinkansen Hikari 514, jam 9.13am. Tapi karena sudah telat, maka saya putuskan naik Shinkansen berikutnya. Sampai di Shin-Osaka saya pun harus tanya sana-sini di mana letak Midori no Madoguchi(JR Ticket Office). Sebenarnya Midori no Madoguchi ini mudah dikenali, karena warna officenya cukup menyolok dengan warna hijau (midori : hijau) tapi berhubung belum tahu tetap saja saya harus tanya ke petugas dulu. Setelah ketemu, saya langsung memberikan invoice JR Pass dan Passport saya. Petugas melakukan verifikasi passport dan invoice kemudian memberikan saya kartu JR Pass yg berlaku 7 hari terhitung sejak saya tukarkan. Kartunya rada besar seperti di bawah ini.

Karena telat,  saya sudah tak mungkin naik Hikari 514, maka saya harus naik Shinkansen Hikari 462,jam 9:40am. Saat memesan tiket, petugas bertanya ke saya mau car/gerbong yg bebas rokok atau tidak, saya jawab harus  yg bebas rokok. Sayang saya lupa menyebutkan tempat duduk harus di bagian E, karena saya akan punya kesempatan melihat Fuji Mount. Saat dari Osaka menuju Tokyo, sebaiknya duduk di bagian kursi E, dan kamu akan punya kesempatan membidik pemandangan Fuji Mount. Dari atas Shinkansen yg sedang melaju dengan kecepatan max 280km/jam.  Sayang saya lupa memesan kursi di bagian E saat menuju Tokyo saya duduk di car 6, No.19C. Ketika Shinkansen sudah melaju memasuki Nagoya, ada sms dari dosen saya Arata Sensei meminta saya duduk di kursi E. Telat beritanya hehehe. Tapi saya pikir kalau pengen membidik kamera kamu bisa pilih keluar gerbong dan berdiri dekat jendela yg biasa memisahkan antara gerbong. Di sana biasanya orang yg lagi kepepet pengen menelpon bisa menggunakan area tersebut. Hati-hati, kalau di Jepang saat berada di dalam Shinkansen kamu sebaiknya tidak menelpon atau menerima telpon. Itu mengganggu dan setahu saya dilarang karena akan mengganggu ketenangan penumpang yg lainnya. Hebat. Saat Shinkansen mulai melaju pun, petugas akan mengumumkan dengan jelas bahwa dilarang menggunakan handphone selama berada di dalam Shinkansen. Agar tidak menganggu penumpang lainnya.

Nikmatnya naik Shinkansen adalah kursinya yg empuk dan bersih banget. Di dalam gerbong Shinkansen juga disediakan charger handphone. Jadi kalau kamu sedang ada di Shinkansen lalu handphone low-batt, kamu bisa men-charge HP kamu di dalam gerbong.

Saya sangat suka naik Shinkansen karena kereta peluru melaju dengan kecepatan tinggi tapi saya tidak merasakan getarannya. Saya suka melihat pepohonan dan pemandangan yg saya lihat seperti berlari sangat kencang. Kadang-kadang saya berpikir tapi bingung, yg bergerak maju saya yg di dalam kereta peluru atau justru pemandangan yg berada di luar sana yg berlari meninggalkan saya seolah-olah saya yg bergerak maju padahal mungkin saya sedang diam di tempat. Entahlah. Yg jelas saya begitu menikmati kereta peluru yg luar biasa ini. Fasilitas  JR Pass ini, memang baik buat orang asing yg ingin merasakan nikmatnya naik Shinkansen. Harganya cukup reasonable. Naik Shinkansen sepuasnya selama 7 hari berturut-turut dengan harga 28,300 yen. Sehingga saya bisa dengan leluasa naik Shinkansen sepuasnya hehehe. Tanpa khawatir biaya akan membengkak.


11 Nov 2013, Hikari 462, Pukul 9:40am. Saya menuju Tokyo duduk di car 6, No.19C.
Pukul 09.30 AM, para penumpang sudah mulai naik ke gerbong masing-masing. Suasana di gerbong saya Car 6, No.19C tidak terlalu padat. Masih terlihat beberapa kursi yg kosong. Saya duduk di bangku yg berderet 3 orang yaitu dekat jendela 19A, ditengah 19B dan di aisle 19C, berikutnya ada yg bangku berderet 2, tetap dekat aisle 19D dan dekat jendela N0.19E.

Kebiasaan orang Jepang menurut pengalaman saya, sebelum naik Shinkansen dengan jarak tempuh 2 jam lebih begini, mereka sudah beli dari luar makan siang atau makan malam mereka. Masing-masing sudah bawa bento ke dalam Shinkansen. Memang saya perhatikan tidak ada larangan untuk membawa makanan dan minuman ke dalam Shinkansen. Mungkin harga makanan dan minuman di dalam Shinkansen agak mahal. Saya sendiri belum pernah mencoba beli sesuatu di dalam Shinkansen. Saya hari ini hanya bawa minuman air mineral yg saya bawa dari apartment Mamiya-san.

Perjalanan hari ini sendirian dan saya berjanji akan ketemu sensei di Tokyo. Pikiran saya hanya melayang dan mencoba menemukan sesuatu di antara orang-orang yg ada di dalam gerbong ini. Berbeda dengan pengalaman sebelumnya, saya senang tapi tidak ada perasaan yg luar biasa. Mungkin karena saya sudah berkali-kali ke Jepang jadi tidak memberikan perasaan mengelitik yg luar biasa. Hanya perasaan nyaman, tenang dan menikmati semuanya dengan ritme hidup yg melambat.

Saya menatap ke luar jendela dan melihat pemandangan di luar sana. Udara hari ini cerah berselimut langit biru. Suasana bulan November di musim gugur udara di Jepang sangat sejuk. Sebagian dedaunan tampak mulai berubah warna menjadi kuning kemerahan. Mata saya terus menghadap keluar jendela. Tiba-tiba saya melihat rainbow yg sedang menghiasi langit di dekat kota Nagoya. Saya langsung berteriak kesenangan. Beberapa orang Jepang yg duduk dekat saya bingung karena suara saya cukup keras. Saya bilang rainbow ada di langit,mereka ikutan melihat. Tapi reaksi mereka hanya senyum simpul saja dan tidak begitu antusias. Saya berusaha keluar gerbong dan menuju jendela di bagian penghubung gerbong, agar saya bisa mengambil photo dengan leluasa. Saya berusaha menangkap rainbow ini dengan kamera Lumix saya. Meskipun sulit untuk mengambil photonya, tapi saya bisa mengabadikannya. Tidak luar biasa tapi saya puas. Saya juga make a wish saat berusaha mengambil momen rainbow ini. Katanya kalau lihat pelangi, kamu make a wish dan biasanya your dream will be come true hehehe. Percaya atau tidak, ini nga penting buat saya.


Selama perjalanan menuju Tokyo saya berharap bisa memotret Fuji Mount. Beberapa dari penumpang di gerbong saya menyadari kalau saya ingin memotret Fuji Mount. Bahkan petugas yg memeriksa tiket penumpang tahu banget kalau saya pengen mengambil photo Fuji Mount. Dengan senang hati petugas dan penumpang lainnya memberitahukan saya ketika kereta peluru kami sudah hampir mendekati Shin Fuji Eki di daerah Shizuoka. Sayang ketika waktunya tiba Mount. Fuji justru sedang bersembunyi tertutup kabut. Saya hanya menyaksikan kereta peluru melaju kencang meninggalkan Mount.Fuji yg tertutup kabut. Penantian saya untuk membidik si geulis Gunung Fuji berakhir sudah. Saya memilih duduk kembali di kursi saya sambil melamun membayangkan akan seperti apa pertemuan saya dengan Arata Sensei di Tokyo.



Shinkansen Hikari yg saya naiki tiba di Tokyo pukul 12:40 siang. Arata Sensei meminta saya untuk turun di Shinagawa Eki. Rencananya kami makan siang bareng tapi karena saya telat 27 menit maka sensei memutuskan makan siang sendirian. Setelah itu beliau ada pekerjaan yg harus diselesaikan segera. Sensei meminta saya untuk datang ke officenya. Dari Shinagawa Eki saya ganti kereta lagi naik Keihin Touhoku Line jurusan Tokyo/Omiya di Yamanote Line turun di Tamachi Eki, hanya satu stop dari Shinagawa Eki. Setelah tiba di Tamachi Eki saya harus keluar di Shibaura-guchi maksudnya exit door sebelah timur, di sebelah kanan ada escalator turun dan persis di sebelah kanan escalator tersebut ada Campus Innovation Center lt.7, office sensei ada di ruangan 701. Sensei berpesan kalau saya sudah tiba di Tamachi Eki saya harus sms beliau, nanti beliau akan jemput saya di dekat escalator turun. Sesuai pesan beliau saya sms setelah tiba di Tamachi Eki. Saat saya berada di escalator turun, saya langsung disambut sensei di sana. Wah saya senang banget. Perjalanan kali ini relatif mudah dan menyenangkan buat saya karena setiap kota pertama yg saya tuju ada sahabat dan dosen saya yg menanti saya. Di KIX Airport ada Mamiya-san yg menjemput saya. Di Tokyo ada Arata Sensei yg menanti saya. Amazing!

Sensei langsung membawa saya ke officenya. Officenya tidak begitu besar. Di depan pintu masuk sensei memperkenalkan saya kepada staff yg membantu adm mereka di sana. Sensei membantu saya merapikan ransel saya di dekat mejanya. Beliau meminta saya meninggalkan barang saya. Sensei membuatkan schedule singkat buat saya di atas kertas. Saya hari ini akan jalan ke Shibuya dan Harajuku. Saya berniat melihat-lihat keramaian yg ada di Shibuya dan Harajuku. Kata sensei ada satu resto yg jual sushi di Shibuya dan tempat ini sangat  populer di kalangan orang bule yg berkunjung ke Tokyo.  Beliau kasih saran agar saya mencobanya dulu. Walaupun secara pribadi saya tidak begitu suka makan sushi. Tapi demi sensei saya janji dalam hati saya akan mencoba menikmatinya. Mungkin sushi di Jepang pasti enak pikir saya. Secara ikan yg disajikan di Jepang pasti segar dan higienis hehehe.

Setelah secara singkat saya dapat arahan dari sensei tentang schedule saya hari ini maka saya pun bergegas berangkat menikmati suasana metropolitan Tokyo. Saya berjanji akan menikmati setiap menit dan setiap inchi dari perjalanan saya ini. Setelah 6 bulan non-stop kerja tanpa ada liburan khusus buat diri saya. Maka liburan kali ini akan saya nikmati sepuasnya dan berharap akan membuat saya fresh kembali. Saya tak ingin perjalanan ini menjadi sia-sia, Shibuya & Harajuku I am coming.
 

to be continued
nuchan@Dec2013



No comments:

Post a Comment