Friday, February 4, 2011

Lansia

Source : Unknown
Konon pada jaman dahulu, di satu daerah di Jepang ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya.

Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang. Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan.

Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil. Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.

"Bu, kita sudah sampai," kata si anak. Ada perasaan sedih di hati si anak. Entah kenapa dia tega melakukannya.

Si ibu , dengan tatapan penuh kasih berkata: "Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang. Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan."

Demi mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak. Dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis. Dia membawa kembali ibunya pulang, dan, merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.

---

Mungkin cerita diatas hanya dongeng ...

Tapi di jaman sekarang, tak sedikit kita jumpai kejadian yang mirip cerita diatas.

Banyak manula yang terabaikan, entah karena anak-anaknya sibuk bisnis dll.

Orang tua terpinggirkan, dan hidup kesepian hingga ajal tiba. kadang hanya dimasukkan panti jompo, dan ditengok jikalau ada waktu saja.

Kiranya cerita diatas bisa membuka mata hati kita, untuk bisa mencintai orang tua dan manula.

Mereka justru butuh perhatian lebih dari kita, disaat mereka menunggu waktu dipanggil Tuhan yang maha kuasa.

Ingatlah perjuangan mereka pada waktu mereka muda, membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, membekali kita hingga menjadi seperti sekarang ini.

***

Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. (Keluaran 20:12)

Thursday, February 3, 2011

Duda keren

Entah kenapa akhir-akhir ini beberapa sahabat saya, pada menikah dengan duda. Duda yg mereka nikahi bukan sembarang duda. Tapi duda keren. Umumnya wajah para duda yg mereka nikahi ini cukup tampan. Saya katakan cukup tampan, karena walaupun sudah berumur di atas kepala 4, tapi badannya cukup atletis. Tidak gembrot. Masih lumayan gagah. Jadi kalau dilihat dari segi fisik, tidak masalah. Lalu bagaimana, kalau ditilik dari segi finansial? Kayaknya kalau dilihat dari umurnya sih pasti sudah dalam kondisi mapanlah. Secara sudah kepala 4, pasti sudah punya rumah, sudah punya mobil dan punya beberapa property lain yg belum tentu dimiliki oleh pria tinting dan masih muda belia hehehe.

Develop a Sense of Urgency

Develop a Sense of Urgency
By: Brian Tracy

Perhaps the most outwardly identifiable quality of a high performing man or woman is "action orientation."

Take Time to Think and Plan
Highly productive people take the time to think, plan and set priorities. They then launch quickly and strongly toward their goals and objectives. They work steadily, smoothly and continuously and seem to go through enormous amounts of work in the same time period that the average person spends socializing, wasting time and working on low value activities.

Getting into "Flow"
When you work on high value tasks at a high and continuous level of activity, you can actually enter into an amazing mental state called "flow." Almost everyone has experienced this at some time. Really successful people are those who get themselves into this state far more often than the average.

In the state of "flow," which is the highest human state of performance and productivity, something almost miraculous happens to your mind and emotions. You feel elated and clear. Everything you do seems effortless and accurate. You feel happy and energized. You experience a tremendous sense of calm and personal effectiveness.

Become More Alert and Aware
In the state of "flow," identified and talked about over the centuries, you actually function on a higher plane of clarity, creativity and competence. You are more sensitive and aware. Your insight and intuition functions with incredible precision. You see the interconnectedness of people and circumstances around you. You often come up with brilliant ideas and insights that enable you to move ahead even more rapidly.

Develop a Sense of Urgency
One of the ways you can trigger this state of flow is by developing a "sense of urgency.・This is an inner drive and desire to get on with the job quickly and get it done fast. This inner drive is an impatience that motivates you to get going and to keep going. A sense of urgency feels very much like racing against yourself.

Create a "Bias for Action"
With this ingrained sense of urgency, you develop a "bias for action." You take action rather than talking continually about what you are going to do. You focus on specific steps you can take  immediately. You concentrate on the things you can do right now to get the results you want and achieve the goals you desire.

Action Exercises
Here are two things you can do immediately to put these ideas into action:

First, select one major task confronting you and launch into it immediately. Don’t hesitate. Move fast.

Second, start doing this every morning, first thing, until it becomes a habit.

Tubuhmu adalah sahabat sejatimu

Merawat orang sakit sama kayak merawat bayi yg baru lahir. Harus hati-hati dan cermat kalau tak mau mereka jadi celaka atau tambah meradang. Saudara saya yg sedang habis operasi, badannya menjadi lemah dan mudah demam. Mungkin daya tahan tubuhnya sudah menurun. Makanan bener-bener harus dijaga dengan baik. Saya sering pusing tujuh keliling mau kasih makan apa yg sesuai dengan selera makannya. Yg pasti harus berserat. Dan kalau bisa sayur-sayur yg serba hijau dan menyehatkan.

Tuesday, February 1, 2011

Reshuffle

Baru-baru ini seorang teman saya dicopot dari jabatannya. Perubahan struktur organisasi dalam perusahaan berubah secara drastis. President Director yg baru memang memiliki gaya kepemimpinan yg sangat berbeda dengan pendahulunya. Kalau Presdir yg dulu cenderung punya kehati-hatian dalam mengambil keputusan yg sangat signifikan dan juga memiliki hubungan yg sangat emosional dengan para staff menengah ke atas. Sehingga  perusahaan jadi cenderung bantat, stagnan dan kurang berkembang. The new successor ini beda sekali.Mengejutkan banyak kalangan. Sering kali keputusannya sangat tidak populis, bahkan banyak yg kasak-kusuk kalau beliau sangat sadis dan menakutkan. Suasana yg dulu sangat kekeluargaan dan budaya senioritas itu masih dijunjung tinggi, maka sekarang semua itu sudah hilang, musnah ditelan perubahan zaman.

Sunday, January 30, 2011

Orang gajian

Perundingan mengenai kenaikan gaji selalu menjadi topik hangat di kalangan manufaktur. Harga BBM yg melambung tinggi selalu menjadi pemicu naiknya harga barang-barang di pasar dan juga menjadi faktor penentu naiknya Upah Minimun Regional (UMR). Tentu saja selain inflasi tahunan yg diterbitkan pemerintah secara resmi. Dan beberapa faktor yg lain yg tak bisa saya jabarkan satu per satu.

Isu-isu ini sering membuat saya miris melihat orang-orang yg bekerja di manufaktur. Bagi saya, sangat  mudah menghamburkan uang yg cuma 50ribu rupiah saja, tapi bagi mereka para pekerja yg hidup matinya bekerja sebagai blue collar uang 50 ribu itu bisa sangat berarti banyak. Upah kenaikan perbulan yg hanya 50 ribu rupiah itu bisa menjadi perdebatan yg sangat alot dan berkepanjangan, kalau tak mau tiba-tiba terjadi demo besar-besaran. Sering kali saya menghindari percakapan tentang kenaikan upah ini dengan para karyawan blue collar. Cara berpikir saya dan mereka tentu saja tak sesuai dan jauh berbeda.

Untuk beberapa staff yg merasa punya skill segudang dan berbagai talenta yg dimiliki, rumusannya cukup mudah sekali, kalau tak puas dengan nilai nominal dan kesejahteraan yg ditawarkan perusahaan, ya  tinggal tanda tangan surat pengunduran diri saja dan bilang bye-bye saja, kemudian hengkang ke tempat yg baru yg lebih menjanjikan. Semua cepat beres.

Tapi untuk karyawan yg hanya punya skill biasa-biasa saja tentu ceritanya sangat berbeda sekali. Mereka tak bisa hengkang setiap saat. Mereka akan berusaha mati-matian untuk mendapatkan kenaikan gaji tahun melalui perundingan yg alot dan intensif antara SPMI dan management perusahaan. Walaupun saya sedih melihat hal ini, tapi tentu saja saya sering tak bisa berbuat apa-apa. Hanya diam menonton kejadian ini. Atau kadang-kadang terbersit di benak saya kenapa mereka tak berusaha meningkatkan skill-nya sehingga mereka punya posisi tawar menawar yg baik dengan pihak management  perusahaan dimana mereka bekerja. Tapi itu hanya pikiran sekilas saja. Kemudian hilang dari benak saya. Lalu saya kembali diam membisu.

Saya kadang-kadang merasa kasihan melihat mereka. Tapi yg sangat saya kagumi adalah mereka masih bisa tersenyum bahagia walaupun mereka dibayar dengan sangat murah. Bandingkan dengan saya, yg menurut mereka sudah mendapatkan lebih dari cukup tapi masih saja suka menggerundel dan ngomel-ngomel karena tak puas dengan nominal yg saya terima. Mungkin mereka berpikir kalau saya agak serakah ya. Sudah hidup enak menurut kaca mata mereka, tapi kurang bersyukur. Karena saya selalu melihat ke atas dimana teman-teman saya jauh lebih sukses secara finansial dan dengan otak teman-teman saya yg semasa kuliah biasa-biasa saja alias nilai akademisnya patut dipertanyakan alias buruk tapi mereka bisa sukses secara finansial. Memang betul kata orang bijak nilai akademis yg bagus tidak menjamin Anda akan makmur dan sejahtera secara finansial. Karena hal itu kurang berhubungan katanya. Kalau ingin makmur secara finansial, cukup Anda mampu menghitung dengan benar 1+1, bisa jadi berapa di tangan Anda. Menakjubkan bukan? Anda tak perlu menjadi ahli matematika untuk menjadi kaya secara financial hehehe. Justru ada lelucon yg mengatakan bahwa orang yg maju dan pintar secara akademis akan cenderung berakhir menjadi budak dan orang gajian dari orang yg bodoh secara nilai akademis. Entah itu benar atau tidak, itu tugas Anda masing-masing untuk membuktikannya.

Saya berharap saya bisa membuktikan bahwa teori atau lelucon itu salah hehehe. Karena saya, salah satu yg memiliki nilai akademis yg baik tapi berakhir jadi orang gajian hahaha

nuchan@31012011
Mau dibawa kemana hidup saya?

Thursday, January 27, 2011

Mens sana in corpore sano

Tubuh saya adalah satu-satunya sahabat terdekat jiwa saya. Ketika jiwa saya resah maka tubuh saya pun akan turut beraksi menderita. Rasanya badan saya menjadi ngilu dan lelah ketika jiwa saya resah. Begitu juga ketika tubuh saya sakit, maka jiwa saya pun turut gundah gulana. Mereka seperti punya hubungan kembar identik.

Saya tak ingin dua-duanya sakit. Maka keduanya harus seimbang dan bersatu padu untuk selalu dalam keadaan prima dan sehat selalu. Jadi ingat pepatah Latin yg sangat terkenal  dan bijak bestari : Mens sana in corpore sano (a healthy mind in a healthy body)

Wednesday, January 26, 2011

Maafkan aku

Tuhan, maafkan aku kalau terlalu ingin serba lebih
Tapi aku ingin mendapatkan tempat berteduh yg baru
Aku suka pemondokan indah di Cibiru
Pondok indah bernomor 25
Tapi harganya tak masuk di akal sehatku
Darimana cari uang sebanyak itu
Bantu aku buka jalan
Berikan clue apakah itu tempat yg baik
Berikan petunjuk apakah sesuai yg Kaurancangkan

Monday, January 24, 2011

Hanya mimpi

Kapan pun dia datang dan pergi,aku selalu memaafkannya. Seolah-olah dia tahu aku akan selalu menerimanya kapan saja,di mana saja dan dalam keadaan apapun. Dia sudah membuktikannya sendiri, setelah bertahun-tahun dia pergi dan melukai hatiku, tanpa merasa bersalah dia datang dan menawarkan senyuman manisnya dengan sorot mata teduhnya dalam hitungan detik dia mampu meluluhkan hatiku. Aku bahkan tak mengingat lagi apa kesalahannya dan bagaimana dia memperlakukan aku. Aku hanya bisa tersenyum, memeluk tubuhnya dan merasakan wangi tubuhnya yg tak pernah hilang dari rekaman otakku. Aku mendekapnya erat-erat, takut dia lari dan menghilang kembali.

Friday, January 14, 2011

Alamak susahnya untuk berbuat adil...

Setiap kali terjadi pergantian struktur organisasi di sebuah perusahaan, maka selalu ada yg diuntungkan dan ada juga yg dirugikan.

Imigrasi oh imigrasi

Sekali waktu saya pernah baru kembali dari Beijing  dengan rute penerbangan  SQ  BCIA-Beijing-Changi Singapore-Sukarno Hatta Jakarta. Pesawat yg saya tumpangi baru mendarat sekitar pukul 11:00 siang. Setelah turun dari pesawat saya bergegas menuju counter imigrasi kedatangan.  Waktu saya sampai di sana sudah terjadi antrian yg sangat panjang. Saya lupa ada berapa loket counter imigrasi kedatangan di Bandara Sukarno Hatta ini. Tapi yg jelas saya ingat adalah loket yg beroperasi di counter imigrasi kedatangan saat itu hanya ada 2 loket. Sementara antrian sudah seperti ular. Dalam hati saya, bener-bener terlalu ini pelayanan bandara internasional tapi kurang memadai dan sangat lamban. Walaupun jengkel saya tetap menunggu dengan masuk  antrian yg panjang.  Daripada bosan saya memilih mendengar musik dari Ipod saya sambil melamun kapan ini bisa selesai.

Friday, January 7, 2011

Celebrating 100 years

 By Cara Brady - Vernon Morning Star
Published: January 04, 2011 7:00 PM
Updated: January 04, 2011 9:32 PM

A century sits lightly on Joan Heriot as she laughs and visits with friends.
“People ask why the English accent? I was born in Vernon but when I was a little child, the whole Okanagan Valley was British. Technically, I’m actually Scottish. I thought that sounded rather exotic. I remember when I won a prize for being tidy at school, it was the Poems of Robert Burns,” she said in an interview late last year.
Her father, Allan Heriot, came to Coldstream from England in 1904 and her mother, Jessie Paulden, came as a governess to the Denison family in 1906. They were married in 1909 and Joan Ethelwyn Heriot was born in the Vernon Hospital Jan. 7, 1911.
The seeds of Heriot’s future careers took root as she grew up in Coldstream. Her mother continued to teach, her father worked as an entomological researcher, doing drawings for his published papers, and the little girl was a keen observer of the natural world. After seeing a collection on beetles when she was six, she declared that she would become an entomologist, an important job because of the many orchards in the area.
Heriot attended St. Michael’s Girls School in Vernon where she met artist Sveva Caetani, who later became a good friend. While she was at UBC studying entomology, she discussed her future career with a professor.
“He said, ‘My poor girl. You’ll never get a job with that. You’re a woman. Women do not get jobs in science. You’ll have to go to England if you will persist,’” she recalled.
She did persist and earned the money for her passage to England by picking apples, weeding gardens, and mowing lawns for two years. She went to the University of Liverpool where she lived with one of her aunts. By 1936 she had earned her M.Sc. degree and a teaching diploma and had a job teaching for the University of London External Program at Brighton Technical College, where she stayed for 30 years and was made department head. Former students remember her fondly and keep in touch: she received a Christmas card from one who is now in Brazil.
“Learning is such a joy for her and she made it a joy for others. Her sense of humour makes it such fun to be around her,” said Sharon Lawrence, who with another friend, Rhondda Biggs, visits Heriot to read to her, including science books since she has kept her interest in science.
Heriot came back to Vernon in 1966.
“I always intended to come back. It was home. I found that the Canadian child had never discovered that there was anything in a pond besides a tadpole,” she said. She remedied that by joining the North Okanagan Naturalists Club and sharing her knowledge with members of all ages.
“I had said that when I retired, I would do some painting. I had some lessons with Miss Jessie Topham Brown but I wasn’t any good with oils or watercolours. Then I made the transition to pastels and I knew this was the medium for me. I found I could do things in pastels that I couldn’t do in any other way. I think I painted something like 250 pictures.”
Her pictures, mostly of local scenery, were much sought after. People vied to be on ‘Heriot’s List,’ which meant the chance to buy her next painting when their turn came up. Her generosity benefited the Vernon Public Art Gallery as she donated pictures to Midsummer’s Eve of the Arts. The gallery had a retrospective of her work in 2007. Some of her journal drawings are in Issue three, 2009 issue of Lake A Journal of Arts and Environment, published by the University of B.C. Okanagan. Heriot wrote Growing up on the Coldstream, A Memoir, (2005) where she recalls her friends from the families of early settlers to the area. The family story is featured in the 74th Record of the Okanagan Historical Society.
In retirement, she renewed friendships with some of them,including Sveva Caetani and Paddy Mackie.
“It’s been an interesting life but I don’t think I’d want to do it again. You’re deprived of so many things — sight and hearing and taste, and mobility. I’m lucky in retaining some of the marbles but they’re on the loose side,” she said.
Lawrence said she loves visiting Heriot. “She’s interested in everything and that’s what keeps her young. She can quote poetry for any and every occasion.”
Lawrence asked if Heriot had any advice, to which she replied with a mischievous smile and the quotes, “Be good sweet maids and let who will be clever,” and “Do good deeds, not dream them all day long.”
Anyone who would like to wish Heriot a happy birthday is invited to her party at All Saints Anglican Church Friday from 2 p.m. to 4 p.m.

Sunday, January 2, 2011

I am ready to face it

Memasuki pergantian tahun yaitu menjelang tahun 2011 yg sudah di depan mata, membuat saya harus menoleh kembali ke belakang, melihat perjalanan waktu selama 364 hari yg sudah saya lalui. Apa yg sudah saya lakukan selama 364 hari itu? Semakin membaik atau memburuk? Atau justru stagnan? Kalau saya stagnan, itu artinya berita buruk buat saya, karena apa yg ada disekitar saya berubah sangat cepat bahkan dalam hitungan detik. Tapi apakah saya berubah? Entahlah. Saya nyaris tak memahami perbedaan yg terjadi dalam hidup saya. Selain usia bertambah dan tubuh saya sudah mulai sering gampang lelah,apalagi yg berubah yah? Sepertinya tak ada yg berubah signifikan. Hidup saya masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Mengakhiri tahun 2010, banyak pesan-pesan unik yg muncul di wall FB. Yg paling umum tentu ucapan “ Selamat Merayakan Natal Des 2010 dan Selamat Tahun Baru 2011”.  Banyak juga yg menuliskan berbagai resolusi di tahun 2011. Semua harapan tentang kebaikan sudah dilantunkan, dipanjatkan dan diaminkan agar terkabul di tahun 2011.